To Live Is to Die

free counters

Khamis, 16 Jun 2011

Cliff Burton dalam kenangan - Kisah kehidupan dan kematiannya



Cliff Burton was the man who had that wild spirit that makes a band like Metallica a quality band. He wasn’t only the bass player, or someone else in the band who co-write the songs, he was the man who made Metallica reach the sky.” (Lars Ulrich)
Semua fans berat Metallica pasti kenal banget dengan pendahulu Jason Newsted dan Rob Trujillo ini. Yup, Clfford Lee Burton atau yang biasa dikenal dengan nama Cliff Burton adalah sosok bassist terbaik yang pernah terlibat sepanjang sejarah band metal asal Amerika itu. Sayangnya, di saat Metallica menjelang puncak kejayaan, Cliff justru mengalami kecelakaan tragis yang berakhir dengan kematian. Namun perlu kita tahu bahwa hidupnya yang singkat gak berakhir dengan sia-sia. Dalam 4 tahun perjalanan karirnya bersama James Hetfield cs (1982-1986), Cliff telah mampu memberikan kontribusi sangat besar yang memengaruhi pondasi bermusik Metallica. Album Kill ‘Em All, Ride The Lightning, dan Master of Puppets adalah contoh buah tangan Cliff yang banyak dilirik kritikus musik dan senantiasa menjadi referensi banyak musisi di seluruh dunia hingga kapan pun. Sebagai musisi yang jenius, ia gak hanya berperan dalam mengisi instrumen bass tetapi juga turut menciptakan lagu dan lirik. Maka dari itu, menurut Lars Ulrich, dengan matinya seorang Cliff Burton sebenarnya Metallica telah pula kehilangan soul-nya.


Cliff lahir di Eden Hospital, Castro Valley, California pada 10 Februari 1962 pukul 21.32 dari pasangan Ray Burton dan Jan. Ray yang merupakan asisten teknisi jalan raya di Teluk San Fransisco merupakan pendatang dari Tennessee. Sementara Jan yang bekerja sebagai staf pengajar anak cacat di sekolah distrik Castro Valley merupakan penduduk asli California. Cliff memiliki 2 orang kakak kandung, Scott dan Connie. Pada 19 Mei 1975, Scott meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit akibat menderita brain aneurysm (penggumpalan darah pada otak). Cliff mulai tertarik pada musik ketika ayahnya memperkenalkan musik klasik. Dari perkenalan itu, ia pun mengambil keputusan untuk coba-coba mengikuti kursus piano pada umur 6 tahun. Sebagaimana umumnya anak-anak, Cliff juga bergabung dengan liga baseball kecil dalam tim Castro Valley Auto House. Ketika menginjak usia 13 tahun, Cliff baru mulai belajar bermain bass. Steve Doherty, yang bermukim di studio musik ABC, adalah guru bass pertamanya. Ia belajar selama beberapa tahun mulai September 1978 hingga Januari 1980. Selain belajar bass, Cliff juga menuntaskan masa pendidikan menengahnya di Earl Warren Junior High School dan Castro Valley High School. Semasa SMA, ia bekerja sampingan di penyewaan alat-alat bernama Castro Valley Rentals. Menurut kedua orangtuanya, Cliff memiliki ambisi untuk menjadi seorang bassist handal demi kakaknya, Scott, yang telah tiada. Ia berlatih bass lebih dari 6 jam setiap hari! Setelah lulus dari Castro Valley High School pada 1980, Cliff melanjutkan pendidikan musik di Chabot Junior College, California Utara. Di kampus itu Cliff bersahabat dengan Jim Martin gitaris Faith No More. Bersama Jim, ia membuat band ”serius” pertamanya yang bernama Agents of Misfortune.
Cliff berkenalan dengan industri rekaman ketika bergabung dengan Trauma pada 1982. Pada suatu pagelaran di Whisky a Go Go, Los Angeles, ia sempat memainkan solo bassnya yang kemudian hari diberi judul (Anesthesia) Pulling Teeth. Kebetulan sekali, di venue tersebut hadir pula James Hetfield dan Lars Ulrich dedengkot Metallica. Ketika mendengar solo yang dimainkan Cliff, mereka menyangka bahwa itu adalah suara gitar yang dimainkan oleh gitaris Trauma. Lantas, James dan Lars pun bergegas mendekat ke panggung. Ah, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat bahwa yang beraksi di atas panggung itu adalah seorang bassist dengan bass-nya. Selang beberapa waktu kemudian, mereka berdua meminta Cliff untuk menjadi bassist Metallica menggantikan Ron McGovney yang gak bisa memegang komitmen dengan serius. Gayung pun bersambut. Di tengah dilema bandnya, Trauma, yang mulai kehilangan idealisme Cliff setuju bergabung bersama Metallica dengan syarat, ia gak perlu meninggalkan California kampung halamannya. James dan Lars pun setuju. Akhirnya markas Metallica pun pindah dari Los Angeles ke California demi memenuhi permintaan sang bassist jago itu. Sementara Cliff tetap tinggal bersama keluarganya, personil Metallica lainnya harus menumpang di rumah seorang soundman bernama Mark Witaker. Berawal dari sinilah Metallica mulai bekerja keras memperjuangkan karir bersama Cliff selama tiga setengah tahun. Setiap pertunjukan, Cliff beraksi menggunakan gaya kincir-angin dengan mengibas-kibaskan rambut panjangnya ke segala arah. Ia memiliki gaya tersendiri. Di kehidupan sehari-harinya, ia berbeda 180 derajat dengan gaya liarnya saat di panggung. Ia sangat ramah, rileks, dan ceria. Kendaraan pribadinya adalah VW keluaran tahun ’72 yang diberi nama “The Grasshopper”. Cliff identik dengan celana cut-brai, jaket jins lusuh, dan makanan Mexico. Ia gak banyak ngomong, tapi ketika mulai berbicara tentang suatu hal, orang-orang pasti akan mendengarkan. Kesukaannya membaca buku-buku Howard Phillips Lovecraft menjadikan Cliff sebagai sosok yang bertanggungjawab terhadap pengembangan lirik-lirik lagu Metallica. Cliff adalah seorang bassist yang sangat inovatif dan pandai mengeksplorasi distorsi ataupun pedal wah di setiap pertunjukan solonya. Namun yang terpenting, ia adalah seorang baik dan merupakan figur yang dicinta oleh seluruh orang di markas Metallica. Cliff selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan fans, gak peduli betapapun lelah keadaannya. Ia adalah sosok yang paling dihargai oleh personil Metallica sendiri bahkan masyarakat.
***
Akhir September 1986. Setelah sukses menggelar konser di Amerika Serikat bersama Ozzy Osbourne, dalam rangkaian tur Damage Inc. untuk mempromosikan album Master of Puppets, Metallica masih harus menuntaskan hutang konser mereka di Eropa. Seusai berkeliling Inggris masih ada beberapa tempat di Skandinavia yang menjadi tujuan mereka yaitu Olympen di Lund pada 24 September, Skedsmohallen di Oslo pada 25 September, dan Sonahallen di Stockholm pada 26 September. Ketiga konser dituntaskan dengan gemilang. Terlebih lagi konser di Stockholm malam tadi. Semalam adalah pertama kalinya James kembali menyanyi sambil memegang gitar setelah mengalami cedera yang cukup parah pada lengannya. Di malam itu Cliff juga memamerkan kebolehannya bermain solo bass. Solo yang panjang, merdu, dan menghebohkan. Pokoknya, konser semalam berlangsung sangat meledak-ledak, seolah gak ada seorangpun di dunia ini yang mampu menghentikan Metallica.
Selesai dari Stockholm, 2 buah bis tur yang merupakan alat transportasi utama Metallica dan manajemen tampak melaju beriringan menuju Copenhagen untuk menggelar konser keempat. Di pagi buta, Sabtu 27 September itu, matahari masih bersinar dengan malu-malu. Bus melaju melewati jalan sunyi, berkelok, dan berbukit yang cukup membuat jengah. Gak ada kendaraan lain terlihat lalu lalang pagi itu. Kondisi jalanan demikian rupa menambah suasana istirahat yang sudah gak nyaman menjadi lebih gak nyaman lagi. Untuk mengobati suasana hati, personil Metallica pun bermain kartu. Mereka sepakat bahwa pemenangnya boleh memilih ruang tidur yang paling nyaman dan disukai. Walhasil, Cliff keluar sebagai pemenang. Setelah puas menghibur hati dengan bermain kartu, mereka mencoba untuk memejamkan mata kembali. Cliff yang memang mengincar ruang tidur Kirk di dekat jendela serta merta meminta haknya sebagai jawara kartu untuk bertukar posisi dengan mengambil alih ruang tidur Kirk. Setelah mendapatkan haknya, ia pun langsung tertidur. Gak ada seorang pun menyadari bahwa permainan kartu tadi akan menjadi perbincangan terakhir Cliff dengan semua orang. Menurut sopir bis tersebut, lewat pukul 6 pagi, seluruh penumpang sedang tertidur ketika bis tiba-tiba menerabas genangan es di tengah jalan hingga tergelincir. Sopir gak mampu mengendalikan setir dan mempertahankan bis pada lajurnya. Bis pun terpental keluar jalur dan menghantam rimbunan alang-alang di Ljungby Municipality, dekat Dörarp di pedalaman selatan Swedia. Cliff terlempar keluar jendela dan jatuh ke tanah sesaat sebelum bis yang tergelincir itu melindas tubuhnya. Setelah itu, putaran roda yang menopang beban bis sekian ton menggilas Cliff sebelum kemudian terguling ke atas tubuh dan membunuhnya seketika.
Keadaan kritis mengakibatkan seluruh penumpang harus mengurusi keselamatan masing-masing. Lars mengalami patah tulang di jarinya, James hanya mendapat cedera ringan, dan Kirk sempat pingsan sesaat. Sementara itu, Aidan Mullen (teknisi gitar) dan Flemming Larsen (teknisi dram) sempat terjepit besi-besi konstruksi bis selama beberapa waktu.
Ketika keadaan menjadi lebih tenang, teknisi gitar lain John Marshall menceritakan bahwa mereka semua keluar dari bis di tengah suhu yang sangat dingin. John sendiri hanya dibalut dengan sepasang kaos kaki dan celana dalam sebelum akhirnya seseorang mengambilkan selimut. Kirk dan James berteriak memaki-maki sopir. Setelah itu, semua orang mulai menyadari bahwa ada suara yang belum terdengar, yakni suara Cliff! Pasti ada yang gak beres. Mereka pun mulai mencari ke mana gerangan bassist rendah hati itu. Ketika mengetahui kondisi memilukan Cliff yang remuk tertimpa bis, semua terkejut dan Kirk pun menangis. Hanya dalam hitungan detik, impian Metallica untuk mencapai kejayaan berubah menjadi mimpi buruk pada insiden di jalan raya Swedia yang sepi dengan tewasnya bassist berusia 24 tahun mereka itu. Sungguh tragis! James yang emosional meyakini bahwa kecelakaan itu terjadi karena kecerobohan sopir yang mungkin saja mabuk. Ia bersungguh-sungguh ingin membunuh sopir bodoh itu. Gak peduli si sopir menabrak es ataukah benar-benar mabuk, yang jelas ia harus bertanggungjawab karena telah membuat Cliff kehilangan nyawa. Namun, setelah diusut oleh kepolisian setempat, indikasi mabuknya si sopir gak pernah terbukti, bahkan ia terbebas dari tuduhan sebagai penyebab kecelakaan.
Kirk menceritakan awal mula ketika pertukaran ruang tidur itu harus terjadi. “Kami gak mau mengalah satu sama lain. Dan saat itu kami berdebat saling memperebutkan ruang tidur. Cliff sangat menginginkan ruang tidur yang saya tempati sementara saya pun menyukai ruang itu. Omong-omong, saya belum pernah menceritakan hal ini pada siapa pun. Sebenarnya, sayalah yang mengusulkan agar menggunakan kartu untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan ruang tidur paling nyaman. Teman-teman lain menyetujui usul saya. Lalu, kami pun mengacak kartu-kartu tersebut. Siapa yang mendapat kartu tertinggi dia lah yang pertama kali berhak memilih ruang tidurnya. Kemudian, saya pun mengambil sebuah kartu dan mendapat kartu dua hati. Cliff menyusul dan ternyata mendapat kartu as sekop. Otomatis, Lars dan James gak mungkin mendapat kartu yang lebih tinggi dari kartu Cliff. Maka Cliff lah yang berhak memilih ruang tidur lebih dulu. Seperti yang sudah diduga, ia memilih ruang tidur saya. Saya mendapatkan tempat di bagian depan bis yang gak terlalu nyaman. Ketika kecelakaan mengerikan yang menimpa Cliff itu akhirnya terjadi, semua orang tahu, Cliff berada di ruang tidur di mana seharusnya saya berada.”
Surat kabar Swedia, Aftonbladet edisi 18 Mei 1996, menuliskan penuturan Kirk Hammet sebagai berikut. “Kami selalu terkenang setiap berkunjung ke Swedia. Bernostalgia tentang suksesnya konser-konser kami dan juga kecelakaan naas itu. Kenangan itu ada yang baik dan buruk. Kenangan itu menjadi buruk bila teringat tentang kecelakaan namun menjadi baik bila mengingat sosok Cliff. Ia masih merupakan bagian besar dari sejarah hidup saya, dan secara sadar gak sadar, saya selalu memikirkan Cliff hampir setiap hari. Saya merasa sangat bersalah. Sesekali, ada suara yang berkata dalam kepala saya bahwa saya lah yang harusnya tewas pada hari itu. Ah, saya tetap merasa bingung bila memikirkan kejadian itu bahkan hingga saat ini.”
Melalui bukunya yang terbit pada tahun 2003 berjudul Justice For All: The Truth About Metallica, penulis Joel Mc Iver mencoba menyelidiki kembali kesimpangsiuran kabar seputar kematian Cliff Burton dengan cara mencari informasi langsung dari saksi-saksi mata. Penyelidikan tersebut membawanya ke dinas pariwisata Ljungby, perpustakaan dan suratkabar lokal Smalanningen, hingga akhirnya berbicara langsung dengan Lennart Wennberg, seorang fotografer lepas yang pada September 1986 bekerja di suratkabar Expressen. Lennert bercerita bahwa Expressen menelpon dirinya yang saat itu sedang berada di rumah pada 27 September 1986 pagi. Atasannya memberi tahu bahwa ada sebuah bis yang mengalami kecelakaan di sekitar Ljungby. Mendengar kabar tersebut Lennert bergegas menuju TKP dengan mobil pribadinya. Sesampainya di sana, ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kondisi bis yang terguling, truk kecil yang rusak akibat tertabrak bis, dan sekitar 10 orang yang terdiri dari personil band, petugas penyelamat, serta pemilik truk kecil. Keadaan yang tetap sunyi seolah menambah tegangnya suasana. Bis itu sebenarnya dalam keadaan terbalik. Namun ketika Lennert sampai di lokasi, petugas penyelamat rupanya telah mengangkat kembali bis dan merapatkannya ke bahu jalan. Sebagian anggota band (manajer dan personil) telah dievakuasi ke rumah sakit Ljungby. Sebatas pengetahuannya, Lennert sama sekali gak melihat sopir bis itu karena memang gak mengenal bagaimana wajahnya. Mungkin sudah diamankan polisi. Lennert berada di TKP sekitar satu setengah jam dan sempat mengambil sekitar 20 gambar dengan kameranya dari depan, belakang, serta samping bis. Petugas kepolisian gak keberatan dengan aktivitas Lennert itu. Sayangnya, seorang manajemen band memintanya berhenti mengambili gambar. Lennert mengaku gak sempat melihat jasad Cliff yang sudah lebih dulu dipindahkan. Mengenai genangan es yang dianggap sebagai penyebab tergelincirnya bis, Lennert mengungkapkan bahwa alasan itu sama sekali gak sesuai dengan keadaan yang dilihatnya. Jalanan benar-benar kering dan gak ada satu genangan pun yang dapat menyebabkan bis tergelincir. Temperatur Swedia pada malam hari memang seringkali di bawah nol derajat, hanya saja hal itu seharusnya gak terlalu berpengaruh menjadikan licin atau gak-nya jalan raya.
Cerita Lennert diperkuat dengan keterangan Detektif Arne Pettersson. Arne menerangkan bahwa pengakuan sopir bis tentang adanya genangan es memang gak sesuai dengan kondisi lapangan. Maka dari itu, penyidikan pun dibuka kembali. Sopir bersikeras bahwa dirinya sama sekali gak mengantuk ketika membawa bis. Hanya saja, setiap peristiwa pasti terjadi karena adanya sebab. Nah, jejak yang terlihat di TKP menunjukkan adanya indikasi sopir sempat tertidur. Lagi-lagi sopir tersebut membantah, bahkan diperkuat oleh sopir bis lain. Menurutnya, ia gak mungkin mengantuk karena telah mempersiapkan fisik dengan tidur seharian penuh sebelum perjalanan. Pada 30 September 1986, suratkabar lokal Smalanningen menulis berita seperti ini,”sopir bis tur akhirnya dibebaskan bersyarat. Ia dilarang bepergian dan harus melapor kepolisian seminggu sekali hingga penyidikan usai. Sopir tersebut sempat ditahan pasca kecelakaan karena dianggap telah bertindak ceroboh hingga menyebabkan tewasnya orang lain.” Hari berikutnya lagi, suratkabar tersebut memberitakan bahwa si sopir untuk sementara menginap di hotel setempat selama berlangsungnya penyidikan polisi. 6 Oktober, keluarlah surat dari Dinas Keamanan Perjalanan Nasional yang menerangkan bahwa bis tur yang digunakan Metallica tidak mengalami gangguan teknis dan dalam kondisi layak jalan. Faktor human error menjadi kemungkinan yang hampir pasti. Namun tetap saja, sembilan hari kemudian, jaksa mencabut larangan berpergian yang dijatuhkan kepada si sopir dan ia diperbolehkan pulang ke tempat asalnya.
Harian Expressen menulis wawancara khusus dengan manajer tur Bobby Schneider. Bobby bercerita bahwa kejadian itu sungguh gak dapat dipercaya. Saat kecelakaan berlangsung seluruh penumpang sepertinya memang sedang tertidur pulas. Bobby yang lantas mengatur seluruh penumpang agar dapat keluar bis dengan selamat tiba-tiba melihat tubuh Cliff terbaring di atas rerumputan. Bobby tahu pasti Cliff saat itu sudah gak bernyawa mengingat keadaannya yang tertimpa bis. Terlemparnya Cliff terjadi dengan cepat. Bobby sangat meyakini bahwa Cliff tewas dengan nyaman tanpa merasakan sakit. “Saat ini seluruh personil gak ada yang sanggup meneruskan tur. Kami hanya ingin cepat pulang dan memastikan Cliff mendapat upacara pemakaman yang layak”, lanjut Bobby.
Daftar laporan kematian warga AS yang meninggal di luar negeri berdasar hasil otopsi Dr. Anders Ottoson menyatakan kematian Cliff disebabkan compressio thoracis cum contusio pulm atau penyumbatan dada yang fatal disertai kerusakan paru-paru. Jasad Cliff dan paspornya yang bernomor E 159240 dipulangkan kembali ke Amerika Serikat. Kemudian jasadnya dikremasi di sebuah kapel kecil di kampung halamannya, Castro Valley, dan abunya ditebar di peternakan Maxwell tempat almarhum biasa menghabiskan waktu senggang. Upacara kremasi diadakan pada 7 Oktober 1986 dengan iringan lagu Orion dari album Master of Puppets. Cliff belum pernah memainkan lagu ini secara live. Bahkan Metallica pun baru memainkannya pada 6 Juni 2006, sekitar 20 tahun setelah lagu itu dirilis. Di akhir upacara, keluarga dan kerabat terdekat Cliff membentuk lingkaran di sekeliling abunya. Satu per satu, masing-masing orang berjalan bergantian ke tengah lingkaran untuk mengambil segenggam abu, mengatakan sesuatu tentang Cliff, dan kemudian menebarkan kembali ke tanah. Mengenai hilangnya sosok pembangun karakter Metallica ini, James hanya dapat berkomentar,”Band? Gak, man! Band itu sudah gak ada. (Metallica) bukanlah sebuah band lagi saat ini. Itu hanyalah perkumpulan biasa yang terdiri dari tiga orang!”
***
Kematian Cliff Burton tentu merupakan pukulan telak bagi band sekelas Metallica. Selama beberapa bulan, band besar itu sempat mengalami depresi hingga harus vakum sesaat. Untungnya, hanya sesaat! Gak membiarkan diri berlama-lama dalam keterpurukan, pada 1988 Metallica merekrut Jason Newsted dan kembali merilis album bertitel And Justice For All. Kebangkitan itu melambungkan nama Metallica menuju ke puncak ketenaran tanpa tanding. Saat ini Metallica telah nyata menjadi ikon dari sejarah musik metal dunia. Seandainya Cliff Burton tetap hidup, mungkinkah Metallica juga akan menjadi sejaya sekarang? Gak seorang pun tahu. Toh pada akhirnya segala komentar sentimentil dari personil Metallica tentang kematian Cliff gak terbukti satu pun. Mereka terus melaju, membuang segala kenangan-kenangan pahit tentang masa lalu hingga mencapai kesuksesan yang fenomenal. Memang hal-hal yang menjatuhkan mental pada permulaan karir cenderung biasa terjadi. Maka dari itu semangat menggebu dan itikad pantang menyerah merupakan faktor yang menentukan sukses atau gak-nya karir siapa saja, baik individu ataupun band. Yang jelas, upaya untuk tetap bangkit setelah terjatuh bisa jadi sebuah senjata ampuh dalam mengantisipasi segala macam kendala, tentunya bila diimbangi dengan kerja keras dan kreativitas yang gak boleh ada matinya. Dalam hal ini, Cliff Burton dan Metallica bisa dijadikan teladan perjuangan yang oke punya. Jadi kesimpulannya, Cliff memang seorang bassist yang memberi nafas dalam musik Metallica. Namun, apakah kematian Cliff lantas membuat Metallica kehilangan jiwa bermusiknya? Sepertinya gak juga, deh.
Ibunda Cliff, Jan Burton, dalam sebuah wawancara mengungkapkan rasa terima kasih atas semua surat yang telah dikirimkan kepadanya sebagai ungkapan belasungkawa. Ia merasa bangga kepada seluruh pencinta musik metal –dan Metallica- yang telah sudi menghibur dirinya saat menerima kabar kematian Cliff. Hingga saat ini, Jan mengaku masih mendapat surat dari para penggemar Cliff. Benar-benar sebuah pembuktian cinta tulus yang sangat membantu keluarga dalam melalui masa-masa sulit. Jan gak bisa memperkirakan betapa berartinya hal itu. Berkoresponden dengan fans-fans Cliff merupakan sebuah proses penyembuhan di mana cinta saling terkirim dan berbalas. Sabtu 30 September 2006, berkaitan dengan 20 tahun wafatnya Cliff Burton, sebuah prasasti batu yang digarap oleh Manuel Pino diletakan di sekitar lokasi kecelakaan. Setelah pembungkus prasasti dibuka, sebagai lanjutan peresmian itu, sebuah konser digelar di restoran Gyllene Rasten yang terletak gak jauh dari lokasi kecelakaan dengan dengan diisi oleh band metal Eropa semacam Age of Fury, The Haze, Killersqueze, dan Morbid Insultor.
Yah, begitulah seorang Cliff Burton. Selain diberkahi kemampuan bermusik yang hebat ia juga memiliki kepribadian yang baik. Wajar apabila semua orang yang pernah mendengar namanya akan berkomentar tentang kematiannya dengan kalimat serupa,”though he is gone, his memory lives on and his music will be with us forever.”

Blackend Is The End

Dyers Eve