To Live Is to Die

free counters

Sabtu, 21 Januari 2012

Bunuh Diri

Namanya Karmin. Orang ini sudah bertahun-tahun hidup berdampingan denganku. Maksudku, sudah bertahun-tahun ia tinggal bersebelahan denganku: di kompleks perumahan kelas teri.

Aku dan dia bernasib sama: penghasilan kami sama; pabrik tempat kerja kami sama; dan posisi kami di tempat kerja juga sama. Hanya satu saja yang membedakan: istriku hanya beranak tiga, istri Karmin beranak sembilan.

Istriku, Marilah, setiap pagi hanya menghabiskan uang belanja sekitar dua puluh ribu: beras enam ribu setengah, minyak goreng dua ribu, cabe seribu, sayur tiga ribu, tempe dua ribu, bumbu-bumbu tiga ribu, dan sisanya kebutuhan dapur yang tak terduga. Sementara istrinya Karmin, Si Brindil – katanya Karmin sendiri – menghabiskan belanja pagi lebih dari empat puluh ribu.

“Jangan menyalahkan dulu,” ucap Karmin membela istrinya, “sembilan anakku itu makannya doyan sekali seperti emaknya. Lihat saja, mana emak mana anak hampir tidak berbeda. Jadi wajar belanjaku setiap hari habis lebih dari segitu.”

Hmm, siapa yang menyalahkan istrimu, Min?” ucapku sambil mengerutkan dahi. “Tapi menurutku, bertahanlah dulu, atau sudahilah dulu, jangan sampai tahun depan istrimu hamil lagi!”

“Ngawur kamu, Mo...mau punya anak sekandang, segudang, itu hakku. Bukankah orang-orang seperti kita ini hiburannya hanya itu?”

“Ha ha ha, dasar orang udik, pikirannya sempit!”

Seperti itulah, setiap hari, tema perbincanganku dengan Si Karmin. Selain berbincang mengenai persoalan sehari-hari, mulai dari beras, cicilan rumah, hingga hutang, juga tak ketinggalan kami saling meledek dan bercanda. Bahkan jika dalam sehari kami tidak saling meledek dan bercanda, rasanya seluruh badan ini seperti sakit semua. Yach, begitulah, bercanda adalah hiburan yang paling murah dan mudah diakses, bukan? Terutama untuk orang-orang sepertiku dan Karmin. Tak mungkin buruh seperti kami sanggup menghibur diri di tempat-tempat mahal seperti kafe, tempat karaoke, atau taman rekreasi yang bertarip kelas menengah ke atas. Jelas tak mungkin. Gaji pokok kami hanya cukup untuk makan sehari-hari. Untuk cicilan rumah, kami harus mengambil kerja lembur lebih banyak lagi.

Parah. Kerja buruh bernilai sangat murah. Seluruh waktu dan tenaga kami hanya seharga makan sehari-hari dan cicilan rumah. Jadi, sepanjang hidup, kami hanya bisa memperoleh makan sehari-hari dan rumah berkualitas buruk di kompleks perumahan kelas teri. Untuk rekreasi, beli baju, beli barang yang aneh-aneh, beli makanan tambahan, beli vitamin, jajan anak-anak, dari mana uangnya?

“Ya harus ngutang,” sahut Karmin keras sekali.

“Untuk bayar hutang uang dari mana?” tanyaku tegas. “Apakah harus menyuruh istri kita melacur?”

Seketika mulut kami terkatup, tak ingin bicara lagi. Kami berpisah di persimpangan gang. Dia beralamat di Jl. Rembes No. 13, dan aku, di Jl. Kawuk No. 10.

Pagi-pagi kami akan bertemu lagi di pabrik, pulang bersama hingga di persimpangan gang, dan perpisah di persimpangan itu. Begitu setiap hari. Pagi ini aku akan berangkat agak awal. Seperti biasa, setiap tiga hari sekali aku harus belanja besar di warung sayur Kang Man. Meskipun harganya tidak terlalu murah, tapi Kang Man sangat lucu. Begitulah. Ternyata aku selalu butuh hiburan, butuh berinteraksi dengan orang-orang yang punya bakat melucu; sebagai obat sesaat untuk menghilangkan penat.

Jam delapan pas, aku sudah berada di dalam pabrik. Aku dan Karmin menempati Barak III, barak untuk pengepakan hasil produksi. Seluruh karyawan di Barak III, satu persatu, kuamati. Sepertinya ada yang aneh, ada yang kurang. Oh, ini yang kurang, Si Karmin ternyata tidak masuk kerja. Kira-kira ada apa ya dengan kawan setiaku itu? pikirku.

Dia tak mungkin sakit, pikirku lagi. Soalnya kemarin sore masih tampak segar bugar. Apakah istrinya ada masalah? Tidak mungkin. Pagi tadi sekelebat berpapasan denganku. Apakah Si Panu, anak sulungnya, berulah lagi? Ah, tidak mungkin juga. Si Panu pasti sudah kapok maling lagi. Bukankah beberapa minggu lalu baru dihajar massa hingga babak belur?

Tak lama berselang, belum usai aku memikirkannya, Mas Satpam tiba-tiba memanggilku: “Mas Paimo, ada yang mau ketemu!”

“Siapa ya?” tanyaku.

“Istrinya Karmin,” jawabnya.

Di ruang satpam, istri Karmin, Yu Brindil, duduk dengan wajah menunduk sambil menahan tangis.

“Ada apa, Yu?” tanyaku.

“Mas Paimo, Kang Karmin sekarat! Dia mencoba untuk bunuh diri!”

“Innalillahi...!”

“Dia belum mati, Mas!”

“Apa sudah dibawa ke rumahsakit?”

“sedang dalam perjalanan.”

“Ayo kita menyusul ke sana...!”

Aku langsung menyambar motor lawasku di tempat parkir. Bersama Yu Brindil, aku melaju kencang menuju rumah sakit. Yu Brindil hampir terpental karena enggan pegangan. Sesampainya di rumah sakit, aku dan Yu Brindil langsung lansung menuju ruang informasi, cari tahu di ruang mana laki-laki bernama Sukarmin dirawat.

“Siapa tadi yang ngurusi administrasinya? tanyaku ke Yu Brindil.

“Mbah Gundul, tetangga samping.”

“Di Blok Melati No. 23, Pak!” teriak seorang perawat berwajah judes.

Kami segera berlari, dan menemukan kamar itu berada di paling ujung.

“Dia sudah pergi,” ucap Mbah Gundul pelan.

“Innalillahi....”

Ternyata, perbincanganku kemarin adalah perbincanganku yang terakhir dengannya – perbincangan perpisahan.

“Mas, tadi pagi, pagi-pagi sekali, pihak bank datang. Kang Karmin sudah menunggak cicilan rumah hampir lima bulan. Pihak bank marah-marah sambil berkata-kata kasar. Semua tetangga melihat. Mungkin dia malu. Mungkin dia sudah tak kuat lagi menjalani hidup seperti ini. Dia menyerah kalah. Suasana seperti ini sudah berlangsung sekitar dua bulan ini: silih berganti petugas bank berdatangan!”

Sambil menangis keras, Yu Brindil bercerita tentang perangai aneh suaminya akhir-akhir ini. “Ternyata dia berkeinginan untuk bunuh diri ini sudah lama. Dia sudah menyimpan beberapa jenis obat hama di lemarinya.”

Yach, aku juga merasakan itu, Yu.... Tapi aku tidak berpikir sejauh itu.”

Tanpa membuang-buang waktu, setelah mengurus administrasi rumah sakit yang rumit dan berbelit, aku dan orang-orang segera membawa jasadnya pulang. Tidak ada biaya untuk membawanya dengan ambulance. Terpaksa mobil bak Mbah Gundul kami pakai untuk mengangkutnya.

Selesai jasad Karmin dimandikan dan bersiap-siap untuk dikafani, tiba-tiba, dengan tergopoh-gopoh, Yu Brindil menghampiriku dan menyerahkan sepucuk kertas kepadaku: “Pesan dari Kang Karmin.”

Pesan itu langsung kubaca dengan tubuh dan pikiranku yang gemetar.

Warti, istriku, berikan tulisan ini kepada Paimo. Dia kawan sejatiku.

-------------------------------------------------------

Mo,aku titip anak-anakku. Didiklah mereka seperti kamu mendidik anak-anakmu. Didiklah mereka jadi pejuang, seperti yang telah kita perbincangkan waktu itu.

Kamu adalah kawan sejatiku. Senakal apapun anak-anakku, tolong jangan kamu bentak,tolong jangan kamu caci-maki! Si Panu memang nakal, maling, tapi semua itu salahku!

Aku tahu, pilihanku ini salah. Tapi aku sudah tak kuat lagi menjalani hidup seperti ini. Aku tak sepertimu.

Mo, katakan kepada Warti (Brindil), dan kepada semua yang datang di pemakamanku: jangan ada perkabungan, ratap-tangis, ataupun duka-cita.

Terakhir. Tak perlu ada batu nisan di atas kuburku!

Blackend Is The End

Dyers Eve